Oleh: petrusfs | Juni 30, 2009

005. AKRAB

Anda dan saya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan yang namanya teman, rekan, sahabat. Tanpa kehadiran mereka kita merasa tidak lengkap. Bahkan, seorang sahabat bisa melebihi seorang saudara ketika kita ada di dalam kesulitan.

Pertemanan membutuhkan penyeleksian. Tidak sedikit orang yang mengalami kehancuran ketika salah memilih teman. Pergaulan yang rusak bisa merusak kelakuan yang baik. Seleksi teman sebaik-baiknya, dan harus berani mengatakan tidak apabila ada ajakan yang negatif.

Selanjutnya pertemanan membutuhkan kepercayaan. Biasanya ketika kita memiliki teman kita cenderung curhat dengannya. Jika seseorang curhat pada kita, kita harus bisa dipercaya untuk tetap memeganag rahasia curhat-nya. Sebaliknya jika kita yang ingin curhat, kita harus benar=benar mempercayainya.

Pertemanan ditingkatkan menjadi persahabatan. DI sini dibutuhkan keakraban. Apa artinya akrab? Orang bilang akrab berarti “berjalan dengannya setiap waktu.” Artinya melangkah bersama. Jika ada seorang sahabat yang keliru dalam berkata atau bertindak, maka kita harus memberitahu kepadanya tentang kekeliruannya. Bukan membiarkannya dalam kesalahan itu. Jika kita mengasihi sahabat kita, kita harus mau mengoreksinya.

Sebaliknya, jika ia berhasil mencapai suatu prestasi kita akan menghargainya. Memujinya dan mengaguminya. Secara tulus dan wajar. Pujian yang tidak tulus bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesombongan. Berikan pujian yang wajar!
Ingatlah juga akan momen-momen penting dalam hidupnya: hari ulang tahunya, hari pernikahannya, dan sebagainya. Perhatian semacam itu akan melanggengkan persahabatan kita. Kunjungi saat ia sakit, hubungi saat  ia berada di luar kita. Berikan komentar yang benar atas apa yang dikenakannya.

Persahabatan tetaplah persahabatan. Jangan sampai terlalu jauh sampai kepada hubungan yang tidak wajar. Tuhan telah menetapkan pasangan kita masing-masing pada waktu yang tepat. Pria dan wanita yang dipersatukan Tuhan dalam pernikahan. Sahabat yang baik akan selalu mengingatkan kita akan hal tersebut.

Oleh: petrusfs | Juni 30, 2009

004. KEPEDULIAN

Happiness is a choice, demikian kata pepatah yang artinya, “Kebahagiaan itu suatu pilihan.” Segala sesuatu yang kita alami dalam hidup ini berkaitan erat dengan pilihan-pilihan kita. Apakah kita ingin memilih bangun pagi atau bangun siang. Apakah kita memilih untuk bekerja keras atau terus bersantai sepanjang hari. Apakah kita memilih untuk memulai setiap hari dengan Tuhan atau dengan keluhan. Masih banyak contoh jenis pilihan lainnya. Salah satu dari pilihan itu adalah memilih peduli atau memilih tidak peduli terhadap orang lain.

Setiap orang tentu punya kebutuhan dan jalan keluar bagaimana memenuhi kebutuhannya tersebut. Anda punya kebutuhan, saya pun punya kebutuhan. Setiap orang punya kebutuhan. Jika setiap orang memiliki kebutuhan, salahkah ia jika ia setiap waktu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhannya tersebut? Tentu tidak salah. Tetapi apakah Tuhan menciptakan kita dengan maksud agar kita hanya hidup dan berjuang  untuk memenuhi  kebutuhan kita sendiri saja? Tentu tidak! Ia menghandaki agar kita memilih untuk menaruh kepedulian. Peduli terhadap alam, peduli terhadap keluarga, peduli terhadap sesama.

Peduli terhadap alam berarti kita akan melestarikannya dengan menjaga kebersihannya. Peduli terhadap keluarga mengajak kita memberikan perhatian lebih kepada keluarga: kepada suami/isteri dan anak-anak dibandingkan waktu-waktu yang lalu. Peduli kepada sesama berarti memperhatikan kebutuhan sesama dan berupaya menolongnya memnuhi kebutuhan itu.

Anak-anak telah meyelesaikan studinya, tetapi mungkin keponakan kita belum. Atau anak tetangga belum. Jika ia anak dari keluarga yang kurang mampu, kita bisa peduli kepadanya dengan menolongnya membelikan sepatu, tas, buku, dan perlengkapan sekolah lainnya. Kepedulian bisa berbentuk pemberian materi semacam itu.

Tetapi jika itu tidak memungkinkan Tuhan tetap meminta kita peduli dengan mendoakan-nya, dengan memberikan senyum kepadanya, dan melakukan hal lainnya. Cobalah menyapa setiap orang yang Anda jumpai disertai senyuman yang wajar. Belajarlah menaruh kepedulian kepada setiap orang. Kita akan menjalani hari dengan penuh sukacita, ketika kita peduli dengan orang lain.

Oleh: petrusfs | Juni 30, 2009

003. SENGAJA

Kalimat yang meluncur dari wakil keluarga yang sedang mengadakan acara khusus kepada tamu-tamunya biasanya begini, “Saudara-saudara sekalian. Kami berterima kasih atas kedatangan saudara sekalian. Apabila dalam penyambutan kami ada hal-hal yang kurang berkenan di hati saudara-saudara, baik disengaja atau tidak, mohon kiranya dimaafkan.”

Seringkali kita membedakan antara kesalahan atau dosa yang disengaja dengan kesalahan atau dosa yang tidak disengaja. Benarkah pembedaan semacam itu. Adakah kekeliruan yang dilakukan tidak sengaja?

Sebenarnya tidak ada kesalahan yang tidak disengaja. Semuanya pasti disengaja. Acara yang amburadul, misalnya, pasti merupakan kesalahan yang disengaja, yaitu sengaja tidak mempersiap-kan acara dengan baik. Jika seorang yang berkendara sepeda motor sekaligus menggunakan handphone dan kemudian menabrak orang lain, apakah itu tidak disengaja? Itu kesalahan yang disengaja, yaitu sengaja melakukan kecerobohan dengan menggunakan handphone saat berkendara yang sebenarnya sangat membahayakan.

Jika kita lanjutkan dengan contoh-contoh lainnya, maka semua kesalahan pasti kita lakukan dengan sengaja: langsung atau tidak langsung. Lalu kita harus bagaimana? Selanjutnya karena itu kesengajaan, maka harus ditindaklanjuti dengan permintaan maaf. Di sinilah kesulitannya. Lebih mudah melakukan kesalahan dengan sengaja dibandingkan meminta maaf sesudahnya. Oleh sebab itu kita harus berpikir ulang sebelum melakukan sesuatu, apalagi yang mengakibatkan kerugian pada orang lain.

Orang lain akan memaklumi jika kita melakukan kesalahan, tetapi mereka sulit memaklumi jika kita tidak mau mengakuinya. Mengakui suatu kesalahan merupakan separuh kemenangan yang telah kita raih. Separuh berikutnya adalah meminta maaf untuk itu. Orang tua seyogyanya mengakui kesalahan kepada anak-anaknya jika ia memang telah bersalah. Guru kepada murid-muridnya. Pejabat kepada rakyatnya. Pemimpin kepada bawahannya.

Pengakuan mendatangkan kelegaan, dan permintaan maaf mendatangkan persahabatan.

Oleh: petrusfs | Juni 27, 2009

002. MEMANG BEDA

 

Seorang anak bertanya kepada ibunya di sebuah toko sepatu. “Ibu, mengapa begitu banyak model sepatu? Mengapa begitu banyak ukuran sepatu? Mengapa begitu banyak warna sepatu?” Ibunya pun menjawab, “Karena setiap orang berbeda. Berbeda selera bersepatu, dan berbeda ukuran sepatu. Coba perhatikan. Ini sepasang sepatu. Keduanya berbeda bukan? Yang ini untuk kaki kanan dan yang ini untuk kaki kiri. Kanan dan kiri saja itu berbeda, sayang. Belum lagi model, ukuran, dan warnanya.”

Tidak ada keindahan tanpa perbedaan. Bisakah Anda membayangkan jika semua orang berjenis kelamin sama, berwajah sama, dan segala sesuatu yang kita lihat semuanya sama? Itu akan membawa kita kepada kebosanan. Monoton. Tak ada variasi. Tak ada kegairahan. Tak ada semangat. Jangan berharap semua orang sama. Jangan berharap semua orang cocok dengan kita. Kita akan kecewa. Mengapa? Karena itu tak mungkin terjadi.Mereka unik. Kita pun unik. Setiap orang itu unik.  Tuhan memang menciptakan kita menjadi makhluk yang unik.

Rangkaian puzzle tak akan bisa dilekatkan satu dengan yang lain, jika semua bentuknya sama. Apalagi jika gambarnya sama. Puzzle memang menarik, karena merangkai potongan yang bentuknya berbeda, gambarnya berbeda. Namun ketika semua disatukan, diperoleh gambar yang utuh. Gambar yang indah. Gambar yang sempurna.

Rangkaian irama musik pun akan terdengar hampa jika tidak merupakan gabungan dan perpaduan dari nada-nada dasar yang berbeda, dari alat-alat musik yang berbeda, yang dimainkan oleh orang-orang yang berbeda. Keberbedaan itu dipadukan sehingga membentuk simfoni yang indah.

Perbedaan memperkaya kita. Perbedaan melengkapi kita. Orang yang berbeda dengan kita ditempatkan Tuhan untuk berada bersama kita agar kita memiliki cara pandang atau persepsi yang berbeda. Pola pikir yang berbeda. Selera makan yang berbeda. Selera musik yang berbeda. Cara mendengkur pun berbeda.

Perbedaan bukan musuh tetapi sahabat. Mari belajar menghargai perbedaan. Suami menghargai perbedaan pada isterinya dan sebaliknya. Orang tua menghargai perbedaan pada diri anak-anaknya, dan sebaliknya. Pimpinan menghargai perbedaan anak buahnya, dan sebaliknya. Pemerintah menghargai perbedaan pada rakyatnya, dan sebaliknya.

Oleh: petrusfs | Juni 27, 2009

001. SEMUA BAIK

Berbicara tentang gambar, banyak orang lebih menyukai gambar yang  penuh warna (full color) dari pada sekedar hitam putih (black and white). Di antara warna-warna tersebut warna apakah yang terbaik?  Jika kita disuruh memilih satu warna saja, pasti hasil pilihan kita akan berbeda satu dengan yang lain. Tetapi perbedaan pilihan warna tidak menunjukkan baik-buruknya warna. Itu hanya menunjukkan bahwa selera kita terhadap warna memang berbeda-beda. Warna bersifat netral. Semua warna baik. Semua warna indah, asalkan sesuai dengan sekitarnya.

Seperti itulah Tuhan menciptakan alam semesta ini. Termasuk kita yang hidup di dalamnya. Warna kulit kita bisa berbeda satu dengan yang lain. Ada yang berkulit putih, hitam, sawo matang, dan sebagainya. Rambut pun demikian: yang satu kriting dan yang lain lurus. Warna kulit manakah yang baik? Rambut jenis apakah yang baik? Semua warna kulit baik. Semua warna kulit indah. Semua jenis rambut baik, semua jenis rambut indah. Mengapa?

Belum lagi ketika manusia berbicara dengan bahasa mereka masing-masing. Bahasa manakah yang baik? Apakah bahasa Indonesia lebih baik dari bahasa Jerman? Ataukah bahasa Inggris lebih baik dari bahasa Rusia? Jangan-jangan … bahasa Jawalah yang terbaik? Tak ada bahasa yang bisa dikatakan baik atau buruk. Semua bahasa baik. Semua bahasa indah. Mengapa?

Karena Tuhan sendiri yang menciptakan semuanya itu.  Ia baik. Tak mungkin Ia menghasilkan yang tidak baik. Warna hitam itu baik, warna putih juga baik. Tergantung dipakai di mana dan untuk keperluan apa. Rambut kriting baik, rambut lurus juga baik. Berbahasa apa pun baik, asalkan di tempat dan waktu yang tepat dengan orang yang tepat.

Yang lebih dilihat Tuhan adalah yang ada di dalam. Something inside! Bukan sekedar yang ada di luar. Kita semua pun harus belajar menghargai semua orang. Tidak meremehkannya. Tidak mengabaikannya. Mari kita belajar untuk tidak melihat tebal tipisnya dompet mereka. Tidak melihat kendaraan yang mereka kendarai. Tidak melihat busana yang mereka kenakan. Tidak melihat gelar yang mereka miliki. Tidak melihat di kompleks perumahan mana mereka tinggal. Juga tidak melihat agama atau kepercayaan yang mereka anut. Mari kita belajar mengasihi mereka, sebab Tuhan yang menciptakan mereka, mengasihi mereka.

Oleh: petrusfs | Juni 12, 2008

GEREJA KRISTEN JALAN-JALAN

gereja

  1. Pendahuluan

Ketika membaca judul di atas mungkin kita merasa tidak enak di hati, karena menyangkut saudara seiman atau bahkan diri kita sendiri. Ya, ini memang menyangkut fakta kehidupan sebagian orang Kristen yang ibadahnya tidak pernah menetap di sebuah gereja lokal, melainkan beribadah di beberapa gereja.

Sebagian orang berpendapat bahwa urusan beribadah di mana saja dan kapan saja adalah urusan pribadi. Tidak ada individu lain yang dapat mengatur tempat dan waktu beribadah seseorang, termasuk pemimpin gereja.

Sebagian lagi menggunakan alasan oikumenis. Bukankah semua gereja adalah gereja Tuhan, dan Tuhan hadir di semua gereja itu? Jadi sah-sah saja kalau seseorang beribadah di banyak gereja. ‘Kan Tuhannya sama. Belum lagi bisa memiliki lebih banyak teman.

Artikel ini mengajak kita untuk melihat prinsip penggembalaan bagi jemaat-jemaat, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Baca Lanjutannya…

Oleh: petrusfs | Maret 27, 2008

YESUS BARABAS

Barabbas
  1. Pendahuluan

Memperbincangkan dan merenungkan kembali peristiwa dan makna penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus biasanya juga memperbincangkan dan merenungkan beberapa tokoh penting yang ada di sekitar peristiwa itu pada waktu itu. Nama-nama seperti Hanas dan Kayafas (imam-imam besar), Pilatus dan Herodes (para penguasa), Simon Petrus, Yohanes dan Yudas Iskariot (beberapa murid Yesus), Simon orang Kirene dan Yusuf orang Arimatea, bahkan beberapa perempuan, seringkali menjadi tempat kita bercermin karena mereka semua mewakili temperamen, karakter dan watak manusia, baik yang positif maupun yang negatif. Namun kali ini saya mengajak kita semua merenungkan tentang seseorang yang juga ada dalam peristiwa itu, namun sangat jarang dibahas, yaitu Barabas. Baca Lanjutannya…

Oleh: petrusfs | Februari 11, 2008

TANTANGAN DAN URAPAN

urapan

1. Pendahuluan

Kehidupan orang muda di mana pun selalu diidentikkan dengan kesenangan dan keriangan. Itulah masa di mana semua orang berkata Enjoy aja! Di satu sisi memang semua orang muda harus menikmati masa mudanya dengan penuh sukacita seperti yang dianjurkan oleh Salomo, tetapi di dalamnya tetap ada pertanggungjawaban kepada Tuhan (Pengkh. 11.9-10). Justru untuk menjadi orang muda yang berkenan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang easy dan instant, melainkan melalui proses yang cukup panjang.

Allah telah menyelamatkan kita oleh pengorbanan Yesus Kristus, dan kemudian mengutus kita seperti domba di tengah serigala (Mat 10.16). Itu berarti bahwa hidup kita penuh dengan tantangan. Untuk bisa mengatasinya, Yesus menasihati kita agar kita “cerdik seperti ular, tulus seperti merpati.” Dalam tulisan ini kita akan melihat kembali berbagai tantangan yang telah, sedang, dan akan kita hadapi, serta bagaimana caranya agar kita mampu melewati segala tantangan tersebut.

Baca Lanjutannya…

Oleh: petrusfs | Februari 8, 2008

PRINSIP-PRINSIP BERKAT

uang

1.  Pendahuluan

Saya percaya bahwa tidak ada seorang pun manusia yang hidupnya tidak ingin memperoleh berkat. Sayangnya ada orang yang tidak tahu tentang kehendak Allah berkaitan dengan berkat; yang lebih fatal lagi, ada orang yang tidak mau tahu tentang kehendak Allah berkaitan dengan berkat. Akibatnya, tidak sedikit orang yang memperoleh berkat dengan cara-cara yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan kehendak Allah; begitu pula dengan cara-cara menggunakannya. Bahkan tidak jarang banyak dosa dilakukan oleh manusia dengan menggunakan berkat-berkat itu. Tulisan ini dibuat agar kita memiliki acuan dari Alkitab berkaitan dengan berkat tersebut. Baca Lanjutannya…

Oleh: petrusfs | Januari 11, 2008

PERTOBATAN SEJATI

Pertobatan Sejati

1. Pendahuluan

Tidaklah berlebihan jika Rasul Paulus mengungkapkan visinya tentang manusia di akhir zaman saat ia menuliskan suratnya kepada anak rohaninya, Timotius. Dalam Surat 2 Timotius 3:1-5 dinyatakan bahwa manusia akan berada pada zaman edan (Yun.: kalepoV, kalepos), di mana manusia akan: mencintai dirinya sendiri (egois) dan menjadi hamba uang, membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, dan lain-lain. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori