
Seorang anak bertanya kepada ibunya di sebuah toko sepatu. “Ibu, mengapa begitu banyak model sepatu? Mengapa begitu banyak ukuran sepatu? Mengapa begitu banyak warna sepatu?” Ibunya pun menjawab, “Karena setiap orang berbeda. Berbeda selera bersepatu, dan berbeda ukuran sepatu. Coba perhatikan. Ini sepasang sepatu. Keduanya berbeda bukan? Yang ini untuk kaki kanan dan yang ini untuk kaki kiri. Kanan dan kiri saja itu berbeda, sayang. Belum lagi model, ukuran, dan warnanya.”
Tidak ada keindahan tanpa perbedaan. Bisakah Anda membayangkan jika semua orang berjenis kelamin sama, berwajah sama, dan segala sesuatu yang kita lihat semuanya sama? Itu akan membawa kita kepada kebosanan. Monoton. Tak ada variasi. Tak ada kegairahan. Tak ada semangat. Jangan berharap semua orang sama. Jangan berharap semua orang cocok dengan kita. Kita akan kecewa. Mengapa? Karena itu tak mungkin terjadi.Mereka unik. Kita pun unik. Setiap orang itu unik. Tuhan memang menciptakan kita menjadi makhluk yang unik.
Rangkaian puzzle tak akan bisa dilekatkan satu dengan yang lain, jika semua bentuknya sama. Apalagi jika gambarnya sama. Puzzle memang menarik, karena merangkai potongan yang bentuknya berbeda, gambarnya berbeda. Namun ketika semua disatukan, diperoleh gambar yang utuh. Gambar yang indah. Gambar yang sempurna.
Rangkaian irama musik pun akan terdengar hampa jika tidak merupakan gabungan dan perpaduan dari nada-nada dasar yang berbeda, dari alat-alat musik yang berbeda, yang dimainkan oleh orang-orang yang berbeda. Keberbedaan itu dipadukan sehingga membentuk simfoni yang indah.
Perbedaan memperkaya kita. Perbedaan melengkapi kita. Orang yang berbeda dengan kita ditempatkan Tuhan untuk berada bersama kita agar kita memiliki cara pandang atau persepsi yang berbeda. Pola pikir yang berbeda. Selera makan yang berbeda. Selera musik yang berbeda. Cara mendengkur pun berbeda.
Perbedaan bukan musuh tetapi sahabat. Mari belajar menghargai perbedaan. Suami menghargai perbedaan pada isterinya dan sebaliknya. Orang tua menghargai perbedaan pada diri anak-anaknya, dan sebaliknya. Pimpinan menghargai perbedaan anak buahnya, dan sebaliknya. Pemerintah menghargai perbedaan pada rakyatnya, dan sebaliknya.
