
Hidup ini selalu diperhadapkan dengan pilihan. Hari ini memilih untuk bangun pagi atau siang. Memilih busana yang mana yang akan dipakai ke pesta. Memilih rumah yang akan dihuni bersama isteri. Memilik sekolah untuk pendidikan anak-anak. Memilih tempat pekerjaan untuk berkarier, dan sebagainya. Pilihan harus dilakukan dengan cermat, dengan berbagai pertimbangan. Pilihan yang dilakukan secara sembrono bisa mendatangkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan bisa berakibat fatal.
Ada banyak alasan seseorang menjatuhkan pilihannya. Ada yang berdasarkan nasihat orang. Misalnya anak muda yang akan memilih teman hidupnya, akan mendengarkan terlebih dahulu nasihat orang tua, tentang perempuan yang bagaimana yang harus dipilihnya. Ada pula pilihan yang berdasarkan suara orang banyak. Seseorang memilih merk handphone tertentu karena banyak orang memilih merk itu. Ada pula pilihan yang didasarkan karena informasi yang lengkap yang diperolehnya dari media. Misalnya orang memilih teve merek tertentu setelah memperoleh informasi tentang keunggulan merk tersebut. Yang lain lagi ada yang memilih berdasarkan intuisi. Ia tidak memperoleh informasi penting tentang apa yang akan dipilihnya, tetapi ‘apa kata hati’ katanya. Dan terkadang pilihan dengan alasan ini bisa tepat juga.
Alasan-alasan tadi tentunya tidak salah sepanjang nasihat dan informasi yang diberikan benar-benar baik dan dapat diterima. Tetapi ada satu alasan lagi yang sering kali dilupakan untuk memilih: yaitu alasan rohani. Kita harus selalu bertanya apakah yang akan kita pilih sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan kehendak kita saja. Sejauh mana kita melibatkan Tuhan dalam pilihan-pilihan kita. Sebagai bangsa yang religius mari kita selalu dapat kepada-Nya dalam doa, dan menyerahkan pilihan-pilihan kita kepada-Nya.
Pilihan berdasarkan pengamatan kita sendiri seringkali bisa salah dan menyesatkan. Misalnya orang yang memilih free sex sebagai gaya hidupnya. Pilihan ini jelas keliru, dan Tuhan pasti tidak menghendakinya. Jika kita tetap ngotot memilih pola hidup semacam itu, itu berarti kita menentang Tuhan yang telah menciptakan kita dan merencanakan sesuatu yang indah dalam hidup kita. Pilihan yang dikehendaki Tuhan tidak akan mendatangkan bencana dalam hidup kita. Mari kita belajar untuk selalu melibatkan-Nya dalam pelbagai pilihan di hidup ini agar tidak menyesal kemudian.
Oleh: petrus f. setiadarma
