Oleh: petrusfs | September 24, 2009

016. LOYALITAS

Kata ‘loyalitas’ memiliki arti ‘kesetiaan dalam pengabdian’. Seseorang bisa setia dengan mudah apabila karena kesetiaannya itu ia memperoleh keuntungan atau manfaat bagi dirinya sendiri. Tetapi ketika ia harus mengorbankan sesuatu atau merasa dirugikan, maka loyalitas atau kesetiaan pun memudar. Di masa sekarang ini sulit ditemukan orang yang benar-benar loyal. Mengapa? Karena pola hidup pengabdian telah bergeser menjadi pola hidup individualis, yaitu pola hidup yang mengarah kepada kepentingan diri sendiri. Contoh-contoh berikut ini semakin meyakinkan kita bahwa loyalitas di masyarakat kita telah luntur.

Anak-anak yang tidak loyal terhadap keluarga. Saat liburan anak-anak jarang mau membantu orang tua membersihkan rumah atau kendaraan. Ketika orang tua mengingatkan mereka bahwa selama ini orang tua telah bekerja keras demi menyediakan biaya hidup dan pendidikan mereka, maka jawab mereka: β€œItu sudah tugas dan kewajiban orang tua!”

Pegawai kantor tidak loyal lagi terhadap perusahaan. Setiap pegawai mendapatkan gaji atau honor sesuai dengan kualitas kerjanya. Ketika ada perpanjangan kerja barang satu sampai dua jam, mulailah ada ‘perhitungan’ untung-rugi. Perusahaan harus menyediakan uang lembur bagi mereka. Time is more- more, more money, kata mereka. Kalau uang lembur dipandang terlalu sedikit, mereka memilih mencari kerja sambilan di luar. ‘Hasilnya lebih banyak di luar’, katanya. Ini tidak hanya menyangkut – maaf – pegawai negeri, tetapi juga pegawai swasta. Semua dihitung dengan uang. Pengabdian? No way kata mereka!

Yang melayani di bidang keagamaan? Sama saja. Mereka hanya mau melayani umat yang dipandang bisa mendatangkan ‘berkat’ bagi mereka. Siar keagamaan hanya dilakukan di tempat-tempat ‘basah’, yang jika dihitung-hitung, masih bisa ‘untung’. Mereka datang hanya ketika diundang, bukan karena dorongan hati atas dasar kepedulian.

Mari kita kembali kepada loyalitas atau kesetiaan ini. Dan itu hanya bisa dilakukan jika didasarkan pada cinta. Ketika seorang anak cinta kepada orang tuanya, membantu orang tua akan menjadi kerja yang amat menyenangkan. Ketika seorang pegawai cinta kepada pekerjaan dan perusahaannya ia rela mengabdikan hidupnya lebih dari perhitungan bisnis semata. Ketika seorang agamawan cinta kepada Tuhan dan umat yang dilayaninya, maka ia tidak akan memandang muka. Semua dilayani dengan hati yang tulus dan bersih. Masalahnya adalah … masihkah cinta itu ada …?

—– 00000 —–

oleh: petrus f. setiadarma


Beri tanggapan

Your response:

Kategori