Oleh: petrusfs | September 24, 2009

018. PENGULANGAN

Pada umumnya orang tidak suka dengan kata ‘pengulangan’. Medngapa? Sebab ada anggapan bahwa pengulangan dilakukan hanya ketika terjadi kegagalan. Seorang anak harus mengulang duduk di kelas II SD, ketika prestasi belajarnya dinilai buruk dan konsekuensinya ia tidak naik kelas. Pengulangan dalam ujian saat kita mengambil SIM mobil dilakukan ketika polisi yang menguji menyatakan kita tidak lulus dalam ujian tersebut. Benarkah ‘pengulangan’ identik dengan ‘kegagalan’? Tujuan pengulangan salah satunya memang guna mengatasi kegagalan, tetapi sebenarnya tidak selalu demikian.

Kita memukulkan palu berulang-ulang pada paku bukan karena pukulan kita gagal, melainkan karena itu diperlukan agar paku tertancap dalam-dalam. Pemasangan tiang pancang atau ‘paku bumi’ dilakukan dengan cara berulang-ulang agar tiang pancang bisa melesak ke dalam bumi, dan nantinya akan mampu menjadi dasar atau fondasi bangunan sekian lainat di atasnya. Di sini pengulangan dilakukan agar tujuan dapat tercapai secara lebih mendalam.

Orang tua tidak boleh jemu untuk berulang-ulang memberikan nasihat kepada putra-putrinya. Nasihat yang diberikan berulang-ulang akan menancap secara mendalam dalam benak dan hati mereka. Untuk itu orang tua harus menyediakan waktu khusus bagi mereka. Mereka tidak bisa bertumbuh secafa fisik dengan benar jika kita hanya menyuapinya dengan sekali saja untuk 10 tahun, bukan? Demikian halnya dengan pertumbuhan mental, moral, dan iman mereka. Sampaikan berulang-ulang agar kita tidak menyesal di masa depan.

Suami dan isteri perlu saling mengungkapkan cinta di antara mereka secara berulang-ulang, agar mereka berdua terus mengingatnya, sehingga tidak mudah tergoda oleh wanita atau pria lain. Ketika hal ini tidak dilakukan, akan menjadi sama seperti tanaman yang tidak disiram berulang-ulang, yang kemudian menjadi layu dan akhirnya mati. Cinta merupakan ‘tanaman’ yang membutuhkan air yang terus disiramkan berulang-ulang, supaya tetap segar dan berkembang.

Umat Tuhan perlu terus-menerus dan berulang-ulang mendengar, membaca, dan melakukan kebenaran firman Tuhan supaya kita mengerti perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya. Hati kita pun menjadi semakin melekat dengan Tuhan Sang Pencipta karena firman-Nya tertancap mendalam di hati kita. Ini akan mencegah kita berbuat jahat atau menyakiti orang lain.

Jadi, lakukan pengulangan di mana perlu, agar kita tidak menjadi lupa diri …

—– 00000 —–

oleh: petrus f. setiadarma


Beri tanggapan

Your response:

Kategori