
Kapankah sesuatu disebut tidak berharga? Sesuatu disebut tidak berharga apabila: pertama, harga satuan yang ada di label benda tersebut memang murah. Sesuatu yang murah umumnya kurang atau tidak berharga. Kedua, apabila ia dibandingkan dengan sesuatu lainnya yang lebih berharga. Mobil yang berharga 200 juta rupiah menjadi tidak berharga dibandingkan mobil lain yang harnya 2 milyar rupiah. Rumah bagus yang seharga 1 milyar rupiah menjadi tidak berharga dibandingkan rumah seharga 10 milyar rupiah. Itu berarti sesuatu dipandang tidak berharga jika ia secara relatif dibandingkan dengan sesuatu yang lebih berharga. Dalam hal ini kita berbicara tentang nilai atau value.
Apakah keluarga merupakan sesuatu yang berharga atau tidak? Bagaimana dengan persahabatan? Bagaimana pula dengan iman? Itu semua tergantung dari nilai yang dipegang seseorang.
Mereka yang melihat uang sebagai sesuatu yang sangat berharga, maka keluarga akan ditelantarkan demi uang tersebut. Pendidikan anak-anak akan dikesampingkan demi uang tersebut. Pendidikan anak-anak cukup diserahkan kepada orang lain yang bisa dibayar untuk itu.
Mereka yang melihat harta jauh lebih berharga juga akan tega memutuskan tali persahabatan, bahkan tali persaudaraan. Demi uang sahabat bisa menjadi musuh, dan demi uang pula sauadar sekandung dibawa di pengadilan.
Yang lain lagi … demi uang iman dicampakkan. Pola pikirnya sederhana. “Untuk apa saya memikirkan keselamatan di balik kematian, jika untuk makan saja saya tidak punya uang?” atau “Peduli amat dengan iman, yang penting adalah harta dan uang.” Mereka bahkan tidak segan-segan datang kepada kuasa kegelapan demi memperoleh harta benda yang sifatnya sementara.
Ada pula yang menyingkirkan iman demi kesehatan. Tanpa ada kejelasan tentang sumber kuasa penyembuhan yang dimiliki, seseorang datang kepada mereka yang memiliki kuasa itu dan rela menanggalkan iman mereka. Bahkan ada yang berkompromi dengan Iblis demi kesehatan fisiknya yang juga sementara.
Kekudusan hidup? Kebenaran? Itu lebih-lebih lagi. Banyak orang tidak mengharga kekudusan hidupnya. Banyak yang hidup dalam pola seks bebas, kata-kata kotor, ide-ide yang melecehkan Tuhan dan agama. Kebenaran juga tidak dijunjung tinggi. Pokoknya saya bisa ’sluman slumun slamet’. Pelbagai kompromi dilakukan, demi keamanan dan kenyamanan diri.
Mari kita kembali menghargai nilai-nilai moral yang mulia. Jangan jadikan itu tidak berharga hanya demi kesementaraan. Hargai hal-hal yang kekal dan baka lebih dari yang fana dan sementara.
—– 00000 —–
petrus f. setiadarma
