Oleh: petrusfs | November 11, 2009

023. BERLIPAT GANDA


Nampaknya berjalan-jalan di perumahan elite tidak ada salahnya. Untuk apa? Ya, untuk apa?Ini sebuah pertanyaan penting: untuk apa kita berjalan-jalan dan mengunjungi perumahan elite? Untuk memacu diri agar mau bekerja lebih giat lagi. Orang-orang yang memiliki rumah-rumah bagus itu dengan harga milyaran, tentunya adalah para pekerja keras yang telah memberdayakan potensi yang Tuhan telah berikan pada dirinya, sehingga ia mampu melipatgandakannya dengan baik.

Sebentar. Belum tentu rumah-rumah bagus itu diperoleh dengan cara demikian, bukan? Ya. Tentu saja tidak semua rumah mewah itu diperoleh dengan cara jujur, tetapi tidak semua rumah juga diperoleh dengan cara tidak jujur. Dengan mengatakan kalimat-kalimat yang cenderung menghakimi seperti: “pasti rumah itu hasil perbuatan yang tidak benar!” maka kita telah berdalih dari tugas kita untuk melipatgandakan apa yang Tuhan berikan kepada kita. Mengapa kita tidak berpikir yang lebih positif? Yaitu bahwa mereka memperolehnya dengan cucuran keringat mereka?

Kerja keras. Itulah ungkapan yang disampaikan oleh salah seorang pebisnis properti kondang Indonesia: Ir. Ciputra. Ia mampu mengubah kehidupannya dari kemiskinan yang parah menjadi orang berada. Rahasianya? Yang pertama tentu adalah bakat bisnisnya. Tetapi para ahli mengatakan bahwa faktor bakat itu hanya 10 persen. Selebihnya adalah kerja keras.

Dalam salah satu kunjungan ke sebuah negara saya dibuat terperangah. Seusai saya bersma teman-teman dari Indonesia bersantap siang dengan tuan rumah ada dua perbedaan mencolok. Tuan rumah langsung bekerja keras lagi, bahkan lebih bersemangat dari sebelumnya. Sementara kami – saya khususnya – langsung menguap karena mengantuk. Orang berkata, “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” … “Lain negara lain budayanya.” Tetapi ada budaya yang baik yang bisa kita tiru, bukan? Budaya kerja keras.

Saya mendapatkan informasi berharga bagaimana anak-anak sekolah di negara itu biasa belajar 10 jam sehari … dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Kerja keras sudah membudaya di kalangan mereka. Sebaliknya, anak-anak didik kita sering pulang pagi. Penyebabnya? Macam-macam: guru sedang rapat lha, ada instruksi dari pusat, dan sebagainya. Tanpa disadarai, anak-anak lalu mempiliki budaya santai. Untuk apa kerja keras …? Tongkat kayu saja bisa menjadi tanaman, kok. Negeri kita kan dikeliling lautan. Eh. Kolam susu? Makanya, santai-santai sajalah.

Jangan marah kepada orang lain atau negara lain yang karena kerja kerasnya diberkati Tuhan, dan menjadi orang atau negara yang lebih makmur dari kita. Mulailah bekerja keras, melipatgandakan anugerah Tuhan dalam hidup kita.

—– 00000 —–

petrus f. setiadarma

 


Beri tanggapan

Your response:

Kategori