
Tidak ada salahnya jika kita meluangkan waktu untuk bersih-bersih rumah. Biasanya ketika kita membersihkan rumah – gudang khususnya – kita bakal menemukan benda-benda lama yang disimpan di situ. Lalu kita berhenti sejenak, misalnya saat menemukan sebuah buku catatan lama yang kita tulis saat di bangku sekolah tentang kelucuan teman dan sebagainya. Belum lagi ketika menemukan barang tertentu. Kita pun bersnostalgia tentang saat kita memperoleh barang itu.
Yang cukup tragis adalah jika kita menemukan barang berharga, yang diberikan oleh sahabat terbaik kita, tetapi kemudian kita melupakannya. Kita menyimpannya di gudang saat itu dengan alasan “nanti pasti akan saya gunakan di kemudian hari”. Namun setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, benda itu tetap berada di gudang. Mengapa? Karena kita telah melupakannya, bahkan melupakan pemberinya.
Kita merasa bersalah. Kemudian untuk menutupi rasa bersalah karena telah mengabaikan pemberian terbaik tersebut, kita mulai membersihkannya, dan memindahkannya ke kamar kita. Nah, barang itu pun berfungsi dengan baik … suatu bingkai foto yang indah.
Dalam hidup ini ada banyak hal yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Semua hal itu merupakan pemberian terbaik dari Sang Pencipta. Potensi dan kemampuan yang kita miliki merupakan pemberian terbaik dari-Nya, namun sepertinya kita telah menyimpannya di gudang terdalam hidup kita. Potensi itu ‘mangkrak’ dan nyaris mubasir. Kita malah mencoba mencari dan ingin memiliki pemberian Tuhan kepada orang lain. Kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Tuhan memberikan kepada setiap orang potensi yang berbeda-beda. Kita frustrasi karena selalu ingin menjadi seperti orang lain. Bukannya mensyukuri pemberian Allah dalam hidup kita dan menggunakannya semaksimal mungkin, malah kita mulai iri hati melihat potensi orang lain.
Mari kita melihat kembali potensi yang Allah berikan kepada kita, dan menggunakannya demi kebaikan kita dan orang lain. Tuhan tidak menuntut dari apa yang tidak diberikan-Nya kepada kita. Ia hanya menuntut pertanggungjawaban dari potensi yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Perbedaan kita dengan para penemu besar seperti Alexander Graham Bell, Thomas Alva Edison, dan yang lainnya adalah bahwa mereka mampu melihat pemberian terbaik Allah dalam hidup mereka, dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Sementara kita, mungkin memiliki begitu banyak pertimbangan, kemudian meletakkan potensi itu dan berupaya mencari-cari potensi lain … yang dimiliki oleh orang lain.
—– 00000 —–
petrus f. setiadarma
