Oleh: petrusfs | September 24, 2009

017. SIMBOL

Manusia diciptakan TUHAN sebagai mahluk sosial. Artinya, makna hidup juga dipengaruhi oleh interaksi manusia dengan sesama dan lingkungannya. Ia diberi kemampuan untuk berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan secara berulang-ulang dengan pelbagai cara guna mengekspresikan apa yang dipikirkan, dirasakan dan dialaminya, serta menerima pengalaman orang lain. Ungkapan-ungkapan itu dinyatakan dalam simbol-simbol atau tanda-tanda. Simbol dibuat dan kemudian disepakati serta dipahami oleh sebuah komunitas. Contoh-contoh berikut ini menarik untuk diperhatikan. Baca Lanjutannya…

Oleh: petrusfs | September 24, 2009

016. LOYALITAS

Kata ‘loyalitas’ memiliki arti ‘kesetiaan dalam pengabdian’. Seseorang bisa setia dengan mudah apabila karena kesetiaannya itu ia memperoleh keuntungan atau manfaat bagi dirinya sendiri. Tetapi ketika ia harus mengorbankan sesuatu atau merasa dirugikan, maka loyalitas atau kesetiaan pun memudar. Di masa sekarang ini sulit ditemukan orang yang benar-benar loyal. Mengapa? Karena pola hidup pengabdian telah bergeser menjadi pola hidup individualis, yaitu pola hidup yang mengarah kepada kepentingan diri sendiri. Contoh-contoh berikut ini semakin meyakinkan kita bahwa loyalitas di masyarakat kita telah luntur. Baca Lanjutannya…

Oleh: petrusfs | September 23, 2009

LEBIH DARI PEMENANG


1. Pendahuluan

Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, maka mau tidak mau kita berada dalam sebuah arena peperangan rohani. Secara bertahap, sadar atau tidak, kita dihentar Tuhan dari satu babak kehidupan kepada babak kehidupan yang lebih tinggi.

Pertama, kita ‘dihindarkan’ dari peperangan rohani karena saat pertama kali mengenal Tuhan kita belum siap untuk berperang. Memang style atau gayanya seperti seorang prajurit, tetapi peperangan rohani yang sesungguhnya belum pernah dilakukan (Kel. 13:17-18)

Kedua, kita diijinkan TUHAN ‘melihat’ peperangan. TUHAN-lah yang berperang bagi kita dan kita berdiam diri saja. Kita senang menyaksikan bagaimana TUHAN menyatakan kuasa dan mukjizat-Nya dalam menghadapi musuh umat-Nya (Kel. 14:14).

Ketiga, kita diharuskan ‘turut’ berperang. Kita tidak bisa menolak hal ini. Negeri Perjanjian yang dijanjikan kepada umat Tuhan hanya bisa dinikmati jika mereka bersedia menghadapi pelbagai jenis musuh yang menghadang di tengah-tengah perjalanan mereka (Kel. 17:5-7)

Jadi hidup dalam ‘peperangan rohani’ merupakan ciri khas para pengikut Kristus. Tetapi mengapa ada orang Kristen yang ‘menang’ dan ada pula yang kalah’? Apakah memang orang Kristen ‘ditakdirkan’ untuk menang? Lalu apa rahasia memiliki hidup yang berkemenangan? Baca Lanjutannya…

Oleh: petrusfs | September 23, 2009

15. HAK DAN KEWAJIBAN

Setiap orang mempunyai hak. Tak ada yang lebih menyenangkan hati selain hak-hak kita terpenuhi. Abraham Maslow mengamati bahwa ketika hak-hak seseorang yang sekaligus merupakan kebutuhannya dipenuhi, maka ia akan termotivasi atau terdorong untuk bekerja dengan baik. Hak untuk memperoleh pemenuhan atas kebutuhan fisik, seperti makan, minum, pakaian, perumahan, dan sebagainya. Demikian pula dengan hak memperoleh keamanan, hak berinteraksi secara sosial, hak memperoleh pengakuan, dan hak mengembangkan diri. Setiap orang akan memperjuangkan hak-haknya tersebut, baik secara pribadi maupun kelompok, baik yang terorganisasi maupun tidak.

Namun bagaimana dengan kewajiban? Orang seringkali melupakannya. Ketika ada kewajiban, orang cenderung mengelaknya, dan menyerahkannya kepada orang lain. Padahal antara hak dan kewajiban seharusnya berjalan bersama-sama. Di mana ada hak, di situ ada kewajiban. Orang yang suka menuntut haknya harus menyadari dan mau menerima tanggungjawab dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Mari kita implementasikan keduanya dalam hal-hal berikut ini.

Dalam keluarga. Apakah yang akan terjadi jika istri-istri menuntut haknya kepada suaminya, tetapi tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri? Ia meminta sarana hiburan seperti teve yang bagus, tetapi enggan menunggui anak-anaknya belajar. Apa pula yang terjadi jika suami-suami menuntut haknya untuk dilayani oleh istri, tetapi malas bekerja mencari nafkah? Apa yang akan terjadi jika anak-anak menuntut hak kamar yang bagus dan komputer atau sarana game yang canggih, tetapi mengelak dari kewajibannya untuk belajar keras dan mencapai prestasi akademik yang baik di sekolah? Apa yang terjadi jika orang tua menuntut hak penghormatan dari anak-anak-nya tetapi mengelak dari kewajiban mendidik anak-anaknya uantuk takut akan Tuhan?

Hal-hal di atas dapat dikembangkan sampai kepada hak dan kewajiban tempat pekerjaan, di tengah masyarakat, terhadap bangsa dan negara. Di mana tidak ada penyeimbangan antara hak dan kewajiban, akan terjadi kekacauan. Mari bersama kita hidup dengan adil untuk menyeimbangkan hak dan kewajiban kita di pelbagai segi kehidupan.

oleh: petrus f. setiadarma

Oleh: petrusfs | September 23, 2009

14. PILIHAN

Hidup ini selalu diperhadapkan dengan pilihan. Hari ini memilih untuk bangun pagi atau siang. Memilih busana yang mana yang akan dipakai ke pesta. Memilih rumah yang akan dihuni bersama isteri. Memilik sekolah untuk pendidikan anak-anak. Memilih tempat pekerjaan untuk berkarier, dan sebagainya. Pilihan harus dilakukan dengan cermat, dengan berbagai pertimbangan. Pilihan yang dilakukan secara sembrono bisa mendatangkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan bisa berakibat fatal.

Ada banyak alasan seseorang menjatuhkan pilihannya. Ada yang berdasarkan nasihat orang. Misalnya anak muda yang akan memilih teman hidupnya, akan mendengarkan terlebih dahulu nasihat orang tua, tentang perempuan yang bagaimana yang harus dipilihnya. Ada pula pilihan yang berdasarkan suara orang banyak. Seseorang memilih merk handphone tertentu karena banyak orang memilih merk itu. Ada pula pilihan yang didasarkan karena informasi yang lengkap yang diperolehnya dari media. Misalnya orang memilih teve merek tertentu setelah memperoleh informasi tentang keunggulan merk tersebut. Yang lain lagi ada yang memilih berdasarkan intuisi. Ia tidak memperoleh informasi penting tentang apa yang akan dipilihnya, tetapi ‘apa kata hati’ katanya. Dan terkadang pilihan dengan alasan ini bisa tepat juga.

Alasan-alasan tadi tentunya tidak salah sepanjang nasihat dan informasi yang diberikan benar-benar baik dan dapat diterima. Tetapi ada satu alasan lagi yang sering kali dilupakan untuk memilih: yaitu alasan rohani. Kita harus selalu bertanya apakah yang akan kita pilih sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan kehendak kita saja. Sejauh mana kita melibatkan Tuhan dalam pilihan-pilihan kita. Sebagai bangsa yang religius mari kita selalu dapat kepada-Nya dalam doa, dan menyerahkan pilihan-pilihan kita kepada-Nya.

Pilihan berdasarkan pengamatan kita sendiri seringkali bisa salah dan menyesatkan. Misalnya orang yang memilih free sex sebagai gaya hidupnya. Pilihan ini jelas keliru, dan Tuhan pasti tidak menghendakinya. Jika kita tetap ngotot memilih pola hidup semacam itu, itu berarti kita menentang Tuhan yang telah menciptakan kita dan merencanakan sesuatu yang indah dalam hidup kita. Pilihan yang dikehendaki Tuhan tidak akan mendatangkan bencana dalam hidup kita. Mari kita belajar untuk selalu melibatkan-Nya dalam pelbagai pilihan di hidup ini agar tidak menyesal kemudian.

Oleh: petrus f. setiadarma

Oleh: petrusfs | September 23, 2009

13. PEMBAHARUAN

Apa yang akan Anda lakukan jika pada suatu ketika, ketika Anda sedang mengemudikan mobil kemudian masuk ke jalan yang keliru, dan jalan itu mengarah ke juran atau ke jalan buntu? Anda tidak akan terus melaju, bukan? Apakah Anda berpikir, bahwa karena Anda sudah terlanjur menempuh perjalanan sekian lama, telah menghabiskan bahan bakar sekian liter, dan telah menghabiskan energi sedemikian besar, maka Anda akan terus berada di jalan itu? Saya rasa tidak! Secepat Anda sadar bahwa itu adalah jalan buntu … secepat Anda tahu bahwa Anda tersesat … dan secepat Anda tahu bahwa itu berakhir di jurang, saya percaya bahwa secepat itu juga Anda akan memutar haluan … kembali ke jalan yang benar. Sederhana sekali, bukan?

Sayangnya, tidak banyak orang yang melakukan hal seperti itu. Yang terjadi seringkali sebaliknya. Orang-orang yang tahu, sadar, bahwa yang dilakukannya keliru. Bahwa ia telah mengambil uang yang bukan menjadi miliknya. Bahwa ia telah bermain dengan wanita yang bukan isterinya. Bahwa ia telah berselingkuh dengan pria yang bukan suaminya. Bahwa ia berasyik-masyuk dengan sesama jenisnya. Tokh, orang-orang itu tidak segera berbalik kepada jalan yang benar. Mereka tidak segera mengakhiri kecemaran dan kemaksiatan semacam itu. Mereka justru merasa amat menikmatinya dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Dosa dan kesalahannya malah dipublikasikan besar-besar. Let all the world know … katanya.

Ketika ada sahabat atau orang lain yang mau menyadarkan dan menginsyafkannya, ia malah berkata bahwa semuanya sudah terlanjur. Terlanjur? Terlanjur apa? Terlanjur berdosa? Jika seseorang belum mati, belum bisa dikatakan terlanjur. Masih ada kesempatan untuk penyesalan dan pertobatan. Masih ada kesempatan untuk kembali kepada jalan yang benmar, jalan Tuhan. Jalan ke arah pembaharuan. Cara hidup yang lama, yang keliru, harus ditinggalkan … dan cara hidup yang baru, yang benar diterima dan dijalani.

Ini membutuhkan keberanian. Pembaharuan menuntut pengorbanan. Berani berkorban untuk sesuatu yang baru. Mungkin sudah banyak urang terbuang di sana. Mungkin nama pun telah tercemar ke mana-mana. Tetapi jika kita mau berubah, mau mengalami pembaharuan, maka akan ada pemulihan. Lebih baik menjadi orang yang dulunya jahat sekarang menjadi baik. Mati sebagai orang benar … dari pada tetap dalam keadaan sebagai orang berdosa. Dibutuhkan kebesaran hati untuk mengalami perubahan dan pembaharuan.

Banyak orang yang mau mengambil kesempatan itu. Agustinus bertobat dari kebiasaan buruknya mempermainkan banyak wanita dan minum minuman keras … menjadi alat Tuhan yang memberitakan kebenaran. Seorang perempuan mau bertobat dari kebiasaannya hidup dari pelukan pria yang satu kepada pria yang lain .. bahkan sampai enam orang pria dikencaninya, dan ia pun mengalami perubahan. Segeralah alami pembaharuan … mumpung belum terlambat!

oleh: petrus f. setiadarma

Oleh: petrusfs | September 23, 2009

12. PRESTASI

Semula banyak orang memuji dan mengagumi beberapa orang atlit yang berhasil memperoleh kemenangan dalam perlombaan atau pertandingan olahraga yang diikutinya. Ketika mereka berhasil mencapai prestasi terbaik bahkan memecahkan rekor, banyak orang mengelu-elukannya. Tetapi tak lama kemudian itu semua berbalik arah. Banyak orang kemudian menjadi kecewa terhadap mereka. Mengapa? Karena mereka terbukti memakai doping, obat-obatan tertentu. Prestasi mereka tidak murni, melainkan hasil rekayasa. Memalukan, bukan?

Hal yang senada nampak dalam dunia akademis. Dengan bangganya orang mencantumkan gelar akademis di depan dan di belakang namanya. Gelarnya berderet-deret. Orang bisa terkibuli dengan kartu nama yang mencantumkan pelbagai gelar tersebut. Nyatanya, semua ijazahnya pun. Bahkan … ijazah Sekolah Dasar nya pun palsu. Untuk apa prestasi gelar yang banyak semacam itu, jika tidak diperoleh secara halal? Tidak mau belajar atau bekerja keras. Maunya memperoleh gelar … secara instan … langsung jadi.

Tentu Tuhan tidak menghendaki kita mencapai prestasi semacam itu. Jika Ia memberikan kepada manusia pelbagai kemampuan dan potensi, maka maksudnya adalah agar dengan pertolongan-Nya, dan dengan bersungguh-sungguh hati, penuh ketekunan dan kegigihan bekerja dan belajar, kit adpaat mencapai prestasi yang baik. Tuhan tersenyum melihat kita bisa memberdayakan potensi yang dikaruniakan-Nya atas hidup kita sehingga kita mampu mencapai prestasi yang sebaik-baiknya. Murni. Sejati. Bukan prestasi rekayasa berupa kepalsuan, dusta dan kebohongan. Melainkan dalam keaslian dan kebenaran.

Prestasi yang diperoleh dengan benar pasti digunakan dengan benar pula. Hati diliputi dengan kerendahan hati. Setiap pujian yang diterimanya dikembalikan sebagai sembah puji dan puja kepada Tuhan Yang Mahakuasa, tidak untuk kebanggaan diri. Hasil prestasi yang diperoleh digunakan untuk kesejahteraan orang banyak. Mendatangkan manfaat yang besar bagi masyarakat. Menghasilkan perubahan bagi seluruh bangsa. Teruslah berprestasi. Jika gagal, janganlah berhenti. Tetaplah maju hingga mencapai prestasi yang bermutu.

oleh: petrus f. setiadarma

Oleh: petrusfs | September 16, 2009

IMAN DAN KEPINTARAN

1. Relasi Iman dan Kepintaran

Bagaimanakah relasi yang benar antara iman dan kepintaran (kepandaian)? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, beberapa prinsip di bawah ini perlu dipahami dengan baik:

(1) Beriman kepada Allah, berarti beriman pula kepada Alkitab, yaitu firman-Nya yang merupakan wahyu khusus Allah kepada kita tentang Diri-Nya.

(2) Alkitab menyatakan bahwa kepada manusia Allah memberikan “mandat budaya” untuk memenuhi bumi ciptaan-Nya dan menaklukkan segenap alam semesta (kej. 1:28).

(3) Dalam rangka melaksanakan tugas itu Allah memberikan kemampuan kepada manusia berupa akal budi, sehingga manusia dapat menghasilkan
berbagai penemuan yang menakjubkan, misalnya:

Kej. 2:20 – taxonomi Adam dalam ilmu zoologi

Kej. 4:20-22 – Yabal menjadi pelopor real estate dan peternakan; Yubal menjadi pelopor dalam musik dan industri hiburan; Tubal-Kain menjadi pelopor dalam teknik industri.

(4) Namun, karena manusia jatuh ke dalam dosa, maka terjadilah kerusakan total dalam akal budi manusia, dimana mereka mencapai prestasi bukan untuk memuliakan Tuhan, melainkan memuliakan dirinya sendiri
(peristiwa Menara Babel dalam Kej. 11:1-9).

(5) Dengan demikian diperlukan adanya pemulihan dan pembaharuan terhadap motivasi kepandaian manusia melalui karya penebusan Yesus
Kristus (Efs. 4:23).

Dengan demikian, relasi antara iman dan kepandaian adalah relasi yang saling melengkapi, yang menyeimbangkan kehidupan kita. Sekalipun demikian, Alkitab berkata bahwa bukan kepandaian yang mengalahkan dunia, melainkan iman kita (1 Yoh. 5:4). Itu berarti bahwa bagaimanapun juga iman memiliki nilai lebih di hadapan Allah dibandingkan kepandaian manusia (bdk. Daniel).

2. Ciri-ciri Kepintaran yang Alkitabiah

Sebagai mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi di mana Tuhan telah menempatkan kita, maka kita dituntut untuk memberdayakan akal budi dan potensi yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita
seoptimal mungkin. Untuk itu perlu diperhatikan ciri-ciri kepandaian yang
berkenan di hati Allah sebagaimana berikut ini:

(1) Permulaan dari kepandaian kita adalah takut akan TUHAN (Amsal
1:7)
.

(2) Penggunaan kepandaian itu harus sesuai dengan kehendak-Nya, yaitu dalam kebenaran dan kekudusan (Kol. 3:17).

(3) Tujuan penggunaan kepandaian itu adalah untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umat manusia (Kej. 12:3).

(4) Argumentasi dengan kebenaran Allah harus berakhir dengan penundukan akan budi kepada ketaatan total kepada kehendak-Nya (2 Kor. 10:5).

(5) Prestasi yang berhasil dicapai oleh kepandaian kita adalah semata-mata karena anugerah Tuhan, sehingga kita memiliki kerendahan hati dengan tetap mengakui kedahsayatan Tuhan (2 Kor. 3:5b; Roma 11:33-36).

—– 00000 —–

pdt. drs. petrus f. setiadarma, mdiv.

Oleh: petrusfs | September 16, 2009

I WANNA BE LIKE HIM

I WANNA BE LIKE HIM

Mazmur 15:1-5

(1) Untuk bisa menjadi seperti Yesus Kristus, pertama-tama kita harus mengalami kelahiran kembali, yaitu kehidupan yang baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan setiap orang yang mau menerima-Nya (Yoh. 3:3; 1 Kor. 5:17).

(2) Dalam kehidupan yang baru itu, kita bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus -Nya dengan benar melalui roh hikmat dan wahyu (Efs. 1:17). Kita harus menjadikan pengenalan ini sebagai prioritas utama dalam hidup ini (Flp. 3:10).

(3) Pengenalan yang benar menghasilkan sikap yang benar, yaitu keinginan sekaligus ketaatan akan perintah-Nya agar kita meneladani-Nya (Yoh. 13:15).

(4) Inilah hal-hal yang harus kita teladani dari kehidupan-Nya (Maz. 15:1-5) –

  1. Berlaku tidak bercela (Lukas 2:52)
  2. Melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran
    dengan segenap hatinya
  3. Tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, tidak berbuat
    jahat terhadap temannya, dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
  4. Tidak memandang hina orang yang tersingkir, tetapi
    memuliakan orang yang takut akan TUHAN (Yes. 42:3).

(5) Berpegang pada sumpah (berkomitmen), walaupun rugi

(6) Tidak membebani, tetapi justru memberkati (Yoh. 6:11).

(5)Akhirnya, oleh pertolongan Roh Kudus, kita dapat menjadi teladan bagi orang lain: dalam perkataan, perbuatan, kasih, kesetiaan, kesucian (1 Kor. 1:11; 1 Tim. 4:12).

—– 00000 —–

pdt. petrus f. setiadarma, mdiv.

Oleh: petrusfs | September 9, 2009

SUKACITA SEJATI

1. Pendahuluan

Sukacita (Ing.: joy; Yun. cara = chara) merupakan salah satu sifat buah Roh (Galatia 5:22-23). Itu berarti sukacita merupakan ciri khas (trademark) orang Kristen. Orang Kristen yang kehilangan sukacita kehilangan sesuatu yang sangat berarti, yaitu hakekat kekristenan itu sendiri. Dalam tulisan ini kita akan merenungkan bersama beberapa bentuk sukacita yang seharusnya kita miliki di dalam mengiring Tuhan kita Yesus Kristus. Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori